Pengemis dalam norma

Seorang pengemis bernama walang, telah menjadi buah bibir di Indonesia yang telah meraup uang sejumlah 25 juta lebih selama 15 hari dengan cara mengemis di Jakarta tepatnya di Pancoran (okezone, 27-11-2013). Jakarta merupakan tujuan yang strategis bagi para pengemis untuk mendapatkan belas kasih masyarakat jakarta. Ini merupakan fenomena luar biasa dimana pengemis menjadi sebuah profesi.
Ane kok bingung sebenarnya pengemis dalam norma agama, tentunya agama islam itu diperbolehkan apa gak sie! Kita kan mesti berkeyakinan bahwa pengemis adalah orang yang tidak punya apa apa di rumah, dan tidak dapat bekerja selayaknya orang perkantoran. Di sini timbul banyak pertanyaan dengan kasus di atas bahwa seorang pengemis bisa meraup uang yang luar biasa banyak dan kalau di banding orang yang bekrja di perkantoranpun tidak mungkn dapat uang sampai segitu. Apakah dengan belas kasihan orang lain dia hidup?, apakah pengemis tidak mau berusaha mndapatkan usaha lain selain menjadi pengemis?
Ada pengemis yang bener tidak punya apa apa bisa jadi mati kalo kita lihat kasus tersebut, karena orang mulai tidak percaya bahwa pengemis lebih miskin dari kita, lebih susah dari kita, lebih sakit dari kita dan sebagainya.
Ane berharap wahai pengemis bisakah kalian tunjukkan kejujuranmu dalam mengemis. Karena kejujuranmu akan memberikan hidupmu lebih baik. Hidup di dunia maupun di akhirat. 

Posted on 28 November 2013, in Islam, Opini and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: