Jalan berlubang di Banjarnegara

Jamanya presiden Soeharto ane masih kecil sampai lulus sekolah tingkat atas alias SLTA di Banjarnegara tentunya. Waktu itu jalan raya masih dikatakan sepi walopun sudah di aspal tapi untuk kendaraan tidak seramai sekarang, sepi pokoknya. Kalo sekolah naik angkot atau microbus yang jurusanya ke banjarnegara dengan biaya yang luar biasa murah waktu itu yaitu cuman 50-100 rupiah.

Banjarnegara masih sebuah kota kecil yang unik dimana infrastruktur dan pembangunan belum sebesar sekarang tetapi nyaman dan makmur kalo menurut ane hehehe, masalahnya ane tinggal di Blambangan sieh apalagi kalo tinggalnya di pelosok nun jauh di kampung gunung mungkin beda persepsi untuk Banjarnegara.

 

Ane amati jamanya Soeharto jalan aspal yang di buat sangat luar biasa kokoh dan awet walopun terkena hujan, terik matahari, di lalui truk yang berat  dan sebagainya masih tetap kokoh. Sehingga pada waktu ane ketemu seseorang yang bekerja di DPU bidang jasa marga provinsi jawa tengah minggu kemaren sempat membicarakan kualitas jalan aspal yang berbeda dengan jaman setelah reformasi atau setelah lengsernya soeharto.

Dalam pembicaraan tersebut yang ane tanyakan itu kenapa kok jamanya soeharta aspalnya kualitasnya baik tidak cepat rusak. Pegawai bidang jasa marga menjawab bahwa memang dulu para kontraktor membuat jalan sesuai dengan anggaran yang di sediakan oleh pemerintah, semisal anggarannya satu juta maka untuk pembuatan jalan seharga satu juta sehingga bisa dikatakan kualitas di dalam proyek sesuai dengan yang direncanakan.

Berbeda setelah reformasi dalam proyek Jalan raya anggarannya besar akan tetapi di dalam pelaksanaannya mereka membuat jalan malah kongkalikong dengan orang-orang yang tidak bertanggungjawab sehingga anggarannya sudah terbagi ke mereka-mereka yang ingin menikmati anggaran pengaspalan atau pembuatan jalan raya. Yah otomatis dengan harga yang kecil para kontraktor jalan raya membuat seadanya dan pengawasnyapun ikut serta menikmati anggaran jalan tersebut tanpa tidak melihat hasil kerja kontraktor. Jadinya jalan yang dibuat tidak sesuai dengan rencana seperti campuran pasir dengan aspal tidak sesuai atau mungkin pengolahannya juga tidak pas.

Oleh sebab itu sekarang coba ente liat jalan di banjarnegara yang begitu panjang kenapa bergelombang, berlubang, pecah, retak, bergeser, dan banyak deh. Itu karena biaya anggaran itu sudah di bagi-bagi ke orang yang tidak bertanggung jawab. Kenyataan tersebut banyak terjadi kecelakaan yang sangat fatal sehingga merenggut jiwa masyarakatnya sendiri akibat jalan yang rusak di banjarnegara.

Memang Banjarnegara merupakan daerah yang banyak tanah bergerak seperti di daerah sijeruk atau jalan banjarnegara dieng. Bina marga berusaha secara maksimal untuk memperbaiki jalan rusak dengan penelitian terlebih dahulu sampai mana tanah bergerak tersebut berhenti. Setelah berhenti tanah tersebut akan baru di kerjakan perbaikannya.

Ane sangat mengharapkan bina marga selalu mengawasi para kontraktornya untuk membuat jalan aspal yang berkualitas sesuai anggaran yang direncanakan jangan sampai di korupsi oleh mereka yang tidak bertanggungjawab. Karena dengan kualitas jalan aspal yang baik pastinya ekonomi banjarnegara akan bangkit dan masyarakat semakin bangga dan percaya pemerintahan di banjarnegara.

Untuk itu pembangunan infrastruktur banjarnegara seperti jalan aspal di perhatikan, jangan hanya tambal sulam. Ane liat tambal sulam yang di lakukan pemerintah kabupaten kualitas aspalnya kurang baik otomatis jalan malah tambah rusak dan berbahaya bagi pengguna jalan. Anggaran di Indonesia untuk infrastruktur itu besar cobalah pemerintah banjarnegara mencoba dan melaksanakan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat.

Semoga semua itu dapat di jadikan gambaran bagaimana pengelolaan bina marga di Indonesia pada umumnya dan secara khusus banjarnegara sebagai kabupaten yang ane tempati sekarang. Mari kita bangun dan dukung para kontraktor yang jujur dan profesional untuk membangun jalan aspal di banjarnegara. Terima kasih… !

Posted on 11 Februari 2012, in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. persoalan infra struktur jalan itu hampir jadi isu nasional.
    tidak hanya mbanjar saja, bahkan seluruh nusantara jg mengalami hal yg sama.

    dlm rangka menyambut pasar bebas dunia dan juga asia, mestinya infra struktur bidang yg satu ini bisa terselesaikan dg baik….

    emang capek klo berharap mulu, oleh karenanya saatnya yg muda yg bicara dan memimpin bangsa ini bung !!!

    tetab smangad dan maju terus !!!
    wahono

  2. Bukan bicara dan memimpin saja bro, tapi membangun banjar lebih baik lagi. Ane pokoknya bangga menjadi orang banjar tapi tidak bangga dengan omongan pemimpin yang hanya janji mulu. Oke bro makasih dan mampir, salam kenal dari ane yang asal dari Blambangan. !!!!

  3. emang bener pemimpin banjar negara ga mikirin jl. 2 di daerahny mikirin kantong sendiri doang d daerah saya dari dulu aj ga pernah di aspal cuman masyarakat yg gotong royong menata pake batu kali aj sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: